Sunday, June 27, 2004

Tuhan Tidak Murka

SEANDAINYA skala waktu kehidupan ini hanya dunia,
seandainya hidup kita ini sekedar sepanjang jatah usia kita,
maka yang rumahnya kena banjir dan longsor adalah para koruptor,
pengkhianat-pengkhianat amanat rakyat, para pendusta masyarakat,
serta orang-orang yang kelakuannya menyakiti hati Tuhan.
Tapi, tidak demikian yang terjadi. Banyak orang kecil, yang selama
ini hidupnya sengsara, sekarang disiksa banjir dan diusir longsor.
Sebaliknya, lebih banyak lagi pencoleng dan penjahat politik ekonomi
kenegaraan yang tidak tersentuh musibah・
Untung ada ilmu hikmah dari Allah. Seorang anak fakir dengan susah
payah bekerja sejak kecil untuk membiayai sekolahnya sendiri, sampai
akhirnya bukan hanya menjadi sarjana, bahkan sukses jadi doktor.
Menjelang hari wisuda kedoktorannya sekaligus menjelang hari
pernikahannya, Tuhan mengambil nyawanya.
Keluarganya nangis nggero-nggero, tapi tangis mereka mungkin segera
mereda jika telinga rohani mereka mendengar kata-kata Tuhan: "Anakmu
itu hamba teladan di pandangan mata-Ku. Ia lulus cumlaude, jadi
Indonesia yang kotor tidak berhak mengotorinya sedikitpun. Maka,
Ku-ambil ia untuk menjadi salah satu kekasih-Ku..."
Kaya tidak berarti jaya di mata Tuhan atau di skala dunia akhirat.
Miskin tidak berarti kehinaan. Selamat dari longsor dan banjir tidak
sama dengan diselamatkan Tuhan. Yang menderita karena banjir justru
mungkinsedang ditagih utangnya oleh Allah, supaya halal bihalal
dengan Tuhan, sehingga kalau mereka mengikhlaskan keadaan karena
banjir itu, maka karamah dan surga Allah menantinya.
Sementara, yang seakan-akan selamat, oleh Allah justru dibiarkan
menumpuk utang-utang kepada-Nya. Allah melakukan istidraj,mbombong,
nglulu. Maka, manusia jengkel; orang yang ia harapkan njlungup nang
sumur karena pekerjaannya nglarani atine wong cilik malah leha-leha
dengan jas dan dasinya. Yang ia harapkan selamat di dunia malah oleh
Tuhan diberi ujian untuk membuka derajat tinggi di surga-Nya kelak.

Kesimpulannya sederhana. Yang tidak terkena banjir dan langsor jangan
GR dan takabur. Yang terkena jangan merasa menderita. Jangan sakiti
hati Tuhan dengan ngersulo atas kehendak-Nya.
Tuhan tidak sedang murka kepada kita: Tuhan terlalu besar dan agung
untuk terganggu oleh pengkhianatan kita.
Kalau Tuhan murka, alangkah sepelenya kadar kemurkaannya: sekedar
banjir, longsor, api membakar di sejumlah tempat. Ukuran kesalahan
kita semua ini, dari sudut akidah dan akhlak di wilayah-wilayah
politik ekonomi kebudayaan, sama sekali tidak lebih rendah dibanding
kedurhakaan kaum Nuh AS yang kemudian ditelan oleh air bah raksasa.
Jadi, kalau Tuhan murka, Jakarta seluruhnya ditelan bumi supaya kaum
intelektual berpikir tentang ibu kota baru Indonesia. Jawa Timur
dilindas air bah merata dan sisanya dihanguskan oleh api supaya
penduduknya mulai belajar berpikir adil dan rendah hati.
Penderitaan yang kita alami seminggu terakhir ini sama sekali belum
sepadan sebagai imbalan bagi kebusukan hati, kepincangan akal, dan
kebobrokan moral yang kita selenggarakan beramai-ramai beberapa tahun
terakhir ini. Itu pun siapa yang sungguh-sungguh menderita?
Lihatlah ke jalanan, mal-mal, plaza, siaran TV, berita koran...
hampir semuanya masih seneng-seneng saja, masih cengengesan dan
pencilakan.
Maka, silakan meneliti sendiri apa sebenarnya yang engkau alami
hari-hari ini. Baik engkau sebagai individu,engkau sebagai anggota
masyarakak, engkau sebagai warga negara; engkau sekeluarga, engkau
sebagai hamba Allah. Apakah Tuhan sedang memberimu peringatan, ujian,
ataukah hukuman, atau semua unsur itu ada sekaligus dalam pengalaman
kita.
Syukurkalau engkau diperingatkan, berarti masih disayang dan
dibukakan kemungkinan untuk selamat. Silakan teliti mana reformasimu?
Sudah empat tahun, ternyata bohong ya. Mana demokrasimu. Mana kinerja
amanah wakil-wakilmu. Ulangi lagi kutukan-kutukanmu dan sesekali
ucapkan kepada dirimu sendiri: jangan-jangan kau kandung Suharto di
sel-sel. darahmu. Jangan-jangan kau bekerja di perusahaan hasil money
laundering-nya Cendana. Siang hari kau teriak-teriak demo, sambil
bawa handphone dan fasilitas uang cipratan hasil penjualan senjata
internasional yang memerlukan pasar konflik di Timur Tengah dan
Indonesia Raya dengan.kamuflase demokratisasi, HAM, dan otonomi
daerah.
Kalau engkau dan para aktivis pahlawan-pahlawanmu itu
berteriak-"Adili Suharto!", "Berantas KKN!" dst- apakah karena engkau
berpikir hukum, ataukah karena diam-diam engkau menyimpan ucapan
"Mestinya aku dong yang kaya raya seperti Suharto... . Bukankah
pemerintah dan wakil-wakil mu sekarang melakukan hal yang sama
persis, bahkan lebih parah, dibanding pelaku-pelaku era yang mereka
kutuk?
***

Sebagian dari kita mungkin diuji oleh Allah. Kalau diuji, berarti
disediakan derajat yang lebih tinggi. Atau mungkin di banyak konteks,
kita memang dihukum oleh Tuhan. Di-adzab.
Tapi, adakah orang yang keberatan dengan adzab Allah? Bukankah engkau
masih terus bergembira ria dengan proyek-proyek dulinan,
produk-produk picisan main-main, tayangan-tayangan seneng-seneng,
pemuatan gambar dan berita celelekan?
Tapi, sementara ini bergembiralah karena rahmat Tuhan memang berbeda
dengan barokah-Nya. Rahmat itu universal. Silakan maling dan korupsi,
Anda tidak dihalangi oleh Allah untuk tetap merasakan enaknya makan
sate, nikmatnya memangku hostes, dan nyamannya mengambil uang rakyat
di kas kantor. Rahmat itu diperuntukkan bagi siapa saja, kiai,
maling, pengojek, pencopet, mubalig, pelacur. Siapa pun.
Barokah tidak demikian. Silakan,. sukses kaya raya berkuasa di muka
bumi dan saya tidak akan mengatakan kepada Anda "belum tentu hidup
Anda barokah" karena Anda toh tidak membutuhkan barokah. Bahkan, Anda
belum tentu butuh Tuhan. Ngaku saja: kalau Tuhan membebaskan Anda
dari shalat, puasa, berbuat baik dst-Anda senang kan? Shalat dan
ibadah itu tidak enak bagi kebanyakan kita.. Maka, kalau Tuhan kasih
tulisan di langit "Mulai hari ini Kubebaskan kalian dari kewajiban
shalat!", kita akan bersorak- sorai dan pesta-pora.
Bahkan, kalau Tuhan tidak ada, malaikat tidak ada, surga tidak ada,
Nabi dan Agama tidak ada asalkan Anda punya uang banyak: Anda mau
kan?
***

Tolong sebut beberapa jenis perilaku pemerintah, wakil rakyat, dan
masyarakat kita dewasa ini yang bisa dijadikan Allah alasan untuk
menyelamatkan kita: Bahkan, persyaratan untuk hancur lebur sudah
sempurna kita miliki. Al'afwu minkum.*****

Emha Ainun Nadjib