Tuesday, June 29, 2004

Istighfar untuk Istighfarku

Istighfarku menguap bersamaan keringnya airmata
Takbirku sekedar penyerahan yang tak melekat lama
Al Fatihahku sekedar gurauan yang indah bernada
Sujdku sekedar ciuman kepada tanah dimana aku menghamba
Shalawatku syair kekaguman yang tanpa makna
Kulepas sajadah begitu juga denga sujudku
Kuletakkan tasbih begitu juga dengan dzikirku
kemanusiaanku pun berakhir di salam kedua

Tuhan, aku beristighfar untuk istighfarku.

Jogja, 2003
Emha Ainun Nadjib


Tuhanku Tuhankaukah ?

Seorang tua berwajah lembut
berbicara kepadaku dengan kelembutannya

“Tuhanku Tuhankaukah ?”
Mata aku tutup untuk melihat cahaya Nya
engkau menutupi cahaya Nya dengan membuka matamu
mulut aku tutup agar telinga mendengar nurani
engkau mengkainkafani nurani dengan melepaskan mulutmu

“Tuhanku Tuhankaukah ?”
gerak otot dan keringatku untuk mengakrabi Nya
engkau meninggalkan Nya untuk keringat dan gerak ototmu
aku berlapar-lapar dengan perutku
agar aku kenyang bersama Nya
Sementara engkau berkenyang dengan perutmu
sampai tak tahu kalau engkau kelaparan

Ilmuku Ilmu Nya
Begitu juga dengan ilmumu
Hartaku harta Nya
Begitu juga dengan hartamu
engkau begitu gelap
sampai tak tahu kalau engkau dalam kegelapan
engkau begitu Lapar
sampai tak tahu kalau engkau dalam kelaparan
engkau begitu bodoh
sampai tak tahu kalau engkau dalam kebodohan
engkau begitu miskin
sampai tak tahu kalau engkau dalam kemiskinan
Kemudian orang tua itu pergi meninggalkanku
dan berkata “Tuhanku adalah Tuhankau juga”

Jogjakarta, Rajab 1423
Emha Ainun Nadjib

Sunday, June 27, 2004

Tuhan Tidak Murka

SEANDAINYA skala waktu kehidupan ini hanya dunia,
seandainya hidup kita ini sekedar sepanjang jatah usia kita,
maka yang rumahnya kena banjir dan longsor adalah para koruptor,
pengkhianat-pengkhianat amanat rakyat, para pendusta masyarakat,
serta orang-orang yang kelakuannya menyakiti hati Tuhan.
Tapi, tidak demikian yang terjadi. Banyak orang kecil, yang selama
ini hidupnya sengsara, sekarang disiksa banjir dan diusir longsor.
Sebaliknya, lebih banyak lagi pencoleng dan penjahat politik ekonomi
kenegaraan yang tidak tersentuh musibah・
Untung ada ilmu hikmah dari Allah. Seorang anak fakir dengan susah
payah bekerja sejak kecil untuk membiayai sekolahnya sendiri, sampai
akhirnya bukan hanya menjadi sarjana, bahkan sukses jadi doktor.
Menjelang hari wisuda kedoktorannya sekaligus menjelang hari
pernikahannya, Tuhan mengambil nyawanya.
Keluarganya nangis nggero-nggero, tapi tangis mereka mungkin segera
mereda jika telinga rohani mereka mendengar kata-kata Tuhan: "Anakmu
itu hamba teladan di pandangan mata-Ku. Ia lulus cumlaude, jadi
Indonesia yang kotor tidak berhak mengotorinya sedikitpun. Maka,
Ku-ambil ia untuk menjadi salah satu kekasih-Ku..."
Kaya tidak berarti jaya di mata Tuhan atau di skala dunia akhirat.
Miskin tidak berarti kehinaan. Selamat dari longsor dan banjir tidak
sama dengan diselamatkan Tuhan. Yang menderita karena banjir justru
mungkinsedang ditagih utangnya oleh Allah, supaya halal bihalal
dengan Tuhan, sehingga kalau mereka mengikhlaskan keadaan karena
banjir itu, maka karamah dan surga Allah menantinya.
Sementara, yang seakan-akan selamat, oleh Allah justru dibiarkan
menumpuk utang-utang kepada-Nya. Allah melakukan istidraj,mbombong,
nglulu. Maka, manusia jengkel; orang yang ia harapkan njlungup nang
sumur karena pekerjaannya nglarani atine wong cilik malah leha-leha
dengan jas dan dasinya. Yang ia harapkan selamat di dunia malah oleh
Tuhan diberi ujian untuk membuka derajat tinggi di surga-Nya kelak.

Kesimpulannya sederhana. Yang tidak terkena banjir dan langsor jangan
GR dan takabur. Yang terkena jangan merasa menderita. Jangan sakiti
hati Tuhan dengan ngersulo atas kehendak-Nya.
Tuhan tidak sedang murka kepada kita: Tuhan terlalu besar dan agung
untuk terganggu oleh pengkhianatan kita.
Kalau Tuhan murka, alangkah sepelenya kadar kemurkaannya: sekedar
banjir, longsor, api membakar di sejumlah tempat. Ukuran kesalahan
kita semua ini, dari sudut akidah dan akhlak di wilayah-wilayah
politik ekonomi kebudayaan, sama sekali tidak lebih rendah dibanding
kedurhakaan kaum Nuh AS yang kemudian ditelan oleh air bah raksasa.
Jadi, kalau Tuhan murka, Jakarta seluruhnya ditelan bumi supaya kaum
intelektual berpikir tentang ibu kota baru Indonesia. Jawa Timur
dilindas air bah merata dan sisanya dihanguskan oleh api supaya
penduduknya mulai belajar berpikir adil dan rendah hati.
Penderitaan yang kita alami seminggu terakhir ini sama sekali belum
sepadan sebagai imbalan bagi kebusukan hati, kepincangan akal, dan
kebobrokan moral yang kita selenggarakan beramai-ramai beberapa tahun
terakhir ini. Itu pun siapa yang sungguh-sungguh menderita?
Lihatlah ke jalanan, mal-mal, plaza, siaran TV, berita koran...
hampir semuanya masih seneng-seneng saja, masih cengengesan dan
pencilakan.
Maka, silakan meneliti sendiri apa sebenarnya yang engkau alami
hari-hari ini. Baik engkau sebagai individu,engkau sebagai anggota
masyarakak, engkau sebagai warga negara; engkau sekeluarga, engkau
sebagai hamba Allah. Apakah Tuhan sedang memberimu peringatan, ujian,
ataukah hukuman, atau semua unsur itu ada sekaligus dalam pengalaman
kita.
Syukurkalau engkau diperingatkan, berarti masih disayang dan
dibukakan kemungkinan untuk selamat. Silakan teliti mana reformasimu?
Sudah empat tahun, ternyata bohong ya. Mana demokrasimu. Mana kinerja
amanah wakil-wakilmu. Ulangi lagi kutukan-kutukanmu dan sesekali
ucapkan kepada dirimu sendiri: jangan-jangan kau kandung Suharto di
sel-sel. darahmu. Jangan-jangan kau bekerja di perusahaan hasil money
laundering-nya Cendana. Siang hari kau teriak-teriak demo, sambil
bawa handphone dan fasilitas uang cipratan hasil penjualan senjata
internasional yang memerlukan pasar konflik di Timur Tengah dan
Indonesia Raya dengan.kamuflase demokratisasi, HAM, dan otonomi
daerah.
Kalau engkau dan para aktivis pahlawan-pahlawanmu itu
berteriak-"Adili Suharto!", "Berantas KKN!" dst- apakah karena engkau
berpikir hukum, ataukah karena diam-diam engkau menyimpan ucapan
"Mestinya aku dong yang kaya raya seperti Suharto... . Bukankah
pemerintah dan wakil-wakil mu sekarang melakukan hal yang sama
persis, bahkan lebih parah, dibanding pelaku-pelaku era yang mereka
kutuk?
***

Sebagian dari kita mungkin diuji oleh Allah. Kalau diuji, berarti
disediakan derajat yang lebih tinggi. Atau mungkin di banyak konteks,
kita memang dihukum oleh Tuhan. Di-adzab.
Tapi, adakah orang yang keberatan dengan adzab Allah? Bukankah engkau
masih terus bergembira ria dengan proyek-proyek dulinan,
produk-produk picisan main-main, tayangan-tayangan seneng-seneng,
pemuatan gambar dan berita celelekan?
Tapi, sementara ini bergembiralah karena rahmat Tuhan memang berbeda
dengan barokah-Nya. Rahmat itu universal. Silakan maling dan korupsi,
Anda tidak dihalangi oleh Allah untuk tetap merasakan enaknya makan
sate, nikmatnya memangku hostes, dan nyamannya mengambil uang rakyat
di kas kantor. Rahmat itu diperuntukkan bagi siapa saja, kiai,
maling, pengojek, pencopet, mubalig, pelacur. Siapa pun.
Barokah tidak demikian. Silakan,. sukses kaya raya berkuasa di muka
bumi dan saya tidak akan mengatakan kepada Anda "belum tentu hidup
Anda barokah" karena Anda toh tidak membutuhkan barokah. Bahkan, Anda
belum tentu butuh Tuhan. Ngaku saja: kalau Tuhan membebaskan Anda
dari shalat, puasa, berbuat baik dst-Anda senang kan? Shalat dan
ibadah itu tidak enak bagi kebanyakan kita.. Maka, kalau Tuhan kasih
tulisan di langit "Mulai hari ini Kubebaskan kalian dari kewajiban
shalat!", kita akan bersorak- sorai dan pesta-pora.
Bahkan, kalau Tuhan tidak ada, malaikat tidak ada, surga tidak ada,
Nabi dan Agama tidak ada asalkan Anda punya uang banyak: Anda mau
kan?
***

Tolong sebut beberapa jenis perilaku pemerintah, wakil rakyat, dan
masyarakat kita dewasa ini yang bisa dijadikan Allah alasan untuk
menyelamatkan kita: Bahkan, persyaratan untuk hancur lebur sudah
sempurna kita miliki. Al'afwu minkum.*****

Emha Ainun Nadjib

Penyakit Dosa

Suatu ketika aku menjelajahi lorong-lorong kota
Dan pasar-pasar di pusat kota Basrah
Bersama seorang pemuda
Tiba-tiba aku melihat seorang tabib di atas kursi
Dikerumuni banyak anak-anak, perempuan dan juga laki-laki
Yang berkerumun sambil membawa segalas air minta obat
Pemuda bersamaku tadi mendekat dan bertanya:
Tabib, apakah Anda punya obat pembersih dosa
Dan penyembuh sakit hati?
Sang tabib menjawab punya
Ambillah akar pohon fakir dan akar pohon tawadhu'
Kemudian campurlah dengan serpihan-serpihan tobat
lalu taruhlah dalam cawan ridha
Berikutnya tumbuklah dengan ketam qana'ah
Masukkan ke dalam periuk takwa
Tuangkan padanya air malu
Didihkanlah dengan api cinta
Setelah itu angkat dan pindahkan ke dalam syukur
Kipasi dengan kipas raja'
Dan minumlah dengan sendok hamdalah
Jika resep ini engkau lakukan
Niscaya engkau akan selamat dari penyakit dan cobaan
Baik di dunia maupun di alam baka.

Emha Ainun Nadjib

Gusti lan kawulo

Sepotong puisi perenungan

GUSTI,seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa

GUSTI,inilah tawanan Mu
tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-hal maya

GUSTI,cinta kami kepada Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari Mu
takkan tertandingi

GUSTI,kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari Mu
agar jadi bening dan tahu malu

GUSTI,kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah Mu

GUSTI,lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan Mu ?

GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

GUSTI,kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti

Emha Ainun Nadjib