Malam mengendap-endap, mengambang menyergap tenda-tenda penjual bajigur dan wedang ronde.
Alun-alun kidul, sebuah simbol masa silam di rentang sejarah perjalanan kita masing-masing.
Ada perbincangan yang mestinya kita nikmati sehangat air jahe meluncur di tenggorokan kita.
Ada lagu-lagu para pengamen yang mengiringi lagu-lagu kita.
Mungkin bukan lagu-lagu cinta atau tentang gadis berbaju merah delima.
Lagu-lagu kita semestinya tentang hidup, tentang getar hati paling jujur.
Sejauh kejujuran yang mampu kita endapkan lalu kita sajikan di lapik perbincangan ini.
Ada yang tersendat mencoba melugaskan makna, meski tak selalu berhasil.
Sepatutnyalah kita mencoba bersetuju dengan hati, tak hanya logika kepala atau kecemasan-kecemasan yang menghantu.
Mungkin memang perlu kita perhitungkan kemungkinan-kemungkinan matematik,
tetapi, sayang, aku tak terlalu pintar aritmatika atau hitungan probabilitas.
Waktu telah kutafsir agak berbeda kini, setelah kematian tak lagi menakutkan
dan masa depan tak lagi menjadi muara kecemasan.
nafas yang telah lesap serta detak jantung yang telah menggema
adalah tanda betapa prasasti perjalanan hanya bisa ditulisi setelah peristiwa usai.
Aku, sayang, tak terlalu mencemaskan akhir lakon yang harus kumainkan di panggung ini.
Kisah yang harus kujalankan adalah perjuangan sepanjang naskah drama tragi-komedi telah kunikmati setiap reguk dan sisipnya.
Mungkin saja aku akan mati sebagai pecundang atau pahlawan, apalah bedanya.
Pada akhirnya layar akan diturunkan dan lampu pun akan padam.
Kegelapan tak lagi menakutkan, sejak kutahu aku takkan pernah sendiri.
Ada kerinduan yang akan selalu menjadi sahabat, kerinduan yang setia.
***
embun malam kemarau seperti diakrabkan padaku setetes demi setetes.
ia seperti mencoba melebur dingin kering musim ketiga dan langit lautan dini hari.
kutemukan diriku semakin tinggi melayang di langit dadamu, semakin dalam menyelam di palung hatimu.
***
Cinta seperti telah berdamai dengan puisi-puisiku setelah tercabik-cabik badai salju di musim yang lain.
Kutemukan diriku pulang ke negeri tempatku bermukim, tak lagi negeri dongeng para peri dan kurcaci.
Seorang kekasih, meski tak akrab dengan kata-kata dari bibirnya, telah menyalakan tungku tanah merah di dapur rumah gubug bambu di masa kecilku.
Kehangatan tempat kularikan diriku di musim-musim yang tak ramah, semisal musim badai, atau musim hama.
Pelukmu, meski masih tersamar keraguan, telah kubaca sebagai prosa yang liris.
Seliris sapaan lembut telapak tanganmu di pipiku yang usang oleh cuaca dan debu jalanan, di tengkukku yang meriang oleh nasib.
Seliris puisi-puisimu yang tak kautuliskan.
***
mentari semakin redup. bayang-bayang tetumbuhan semakin pudar saja.
perjalanan belum lagi melewati saat tengah hari, tetapi awan seperti ingin menggoda kesabaran kita.
***
Gerimis sesekali membasahi lahan kemarau tempat kita menyemai bibit cinta.
Memang bukan pilihan musim yang tepat, sementara pupuk dan cacing penggembur tanah seperti enggan bekerja.
Mungkin ladang yang kita siapkan ini tak cocok untuk tanaman kita,
Tetapi bukankah cinta adalah jenis varietas tanaman yang cocok tumbuh di segala iklim dan jenis tanah?
Kita lahir dari darah petani, pastilah kita benar-benar mengerti hal ini.
Sementara itu, seorang lelaki setiap penggal siang menjelma menjadi debu dalam demamnya yang akut.
Mungkin bukan demam biologis, mungkin hanya semacam psikosomatis, sakit perasaan.
Dari helai rambutnya yang mulai panjang, luruh sehelai sajak rayuan.
***
perempuan bunga
adakah ingin dekap lelaki debu
dalam kelopak jantungmu yang ragu
agar angin luput menyapu
lelaki debu dari tangkaimu
***
Dan saat senja terjatuh, ia menjelma jadi kabut.
Menguap lalu mengawang-layang di lelangit ladangnya yang masih saja keras hati.
Ladang keraguan. ladang hati. ladang hati yang ragu. ladang hati yang ragu oleh rindu.
Adakah rindu akan bertahan, ataukah hanya remang gairah sejenak hinggap, lalu lesap entah ke mana.
***
kekasih, sisihkan sepotong saja
rindumu untuk lelaki kabut
mengembun dalam cintanya yang akut
dalam cekam dingin inginnya
akan-mu
***
Tetapi darah petani ada dalam setiap riam pembuluh di tubuhku.
Sepenuh hati kucangkul-gemburkan ladang-ladangku, meski musim bisa sangat kejam, meluluhlantakkan semua jerih payah sepenuh jiwa dan tetes keringat gairah dan cita-cita.
Namun, tak ada arang yang patah dalam tunggu jantungku.
Setiap kisah yang patah akan kuhayati sepenuh hati dan kusyukuri seperti keramat amanat Dewi Sri.
Aku tak bertani sebagai hobi atau pelampias waktu jeda di antara musim tunggu.
Kubercocok-tanam dengan darah dan keringat.
Kucecap setiap tetes amis dan asin, sebagai sajak-sajak di relung puisi.
Serupa genggaman tangan yang lembut atau kecupan pipi yang tercuri.
***
debar hangat semakin guncang
dada meluap oleh kasih
menyimpan peluk di lubuk hati
hingga cinta membebaskannya
dari belenggu ragu
***
Kubaca tatap matamu bosan dengan semua yang tampak.
Hal-hal seperti telah menetap dalam posisinya masing-masing.
Posisiku tak terlalu aman serupa awan yang mengambang, rawan terberai oleh angin jahat.
Angin yang menghembus doa-doa pecinta sejati dan membelokkannya dari arah yang semestinya.
Bebatuan di sungai yang kita lalui berserak di kiri-kanan rakit kita.
Legam berkilau menunjukkan kekerasannya.
Perjalanan yang ini mungkin akan sangat melelahkan, banyak batu yang harus kita hindari.
Rakitku tak terlalu aman, bisa terusir oleh sungaimu setiap saat, karam dalam palung jeram atau dampar di hempas riak ke tebing tepian.
Langit adakah peduli dengan arah arus sungai?
Tampak di mataku hanyalah ejekan yang dipertontonkannya melalui gemawan yang tersebar tanpa bentuk jelas, bergerak tanpa arah jelas, seperti menghina arah yang kutempuh. sepotong rakit yang rapuh.
Tapi aku tak akan mengeluh.
Subscribe to:
Posts (Atom)
