Sunday, November 20, 2005

Monolog 7

Malam mengendap-endap, mengambang menyergap tenda-tenda penjual bajigur dan wedang ronde.
Alun-alun kidul, sebuah simbol masa silam di rentang sejarah perjalanan kita masing-masing.
Ada perbincangan yang mestinya kita nikmati sehangat air jahe meluncur di tenggorokan kita.
Ada lagu-lagu para pengamen yang mengiringi lagu-lagu kita.

Mungkin bukan lagu-lagu cinta atau tentang gadis berbaju merah delima.
Lagu-lagu kita semestinya tentang hidup, tentang getar hati paling jujur.
Sejauh kejujuran yang mampu kita endapkan lalu kita sajikan di lapik perbincangan ini.
Ada yang tersendat mencoba melugaskan makna, meski tak selalu berhasil.

Sepatutnyalah kita mencoba bersetuju dengan hati, tak hanya logika kepala atau kecemasan-kecemasan yang menghantu.
Mungkin memang perlu kita perhitungkan kemungkinan-kemungkinan matematik,
tetapi, sayang, aku tak terlalu pintar aritmatika atau hitungan probabilitas.

Waktu telah kutafsir agak berbeda kini, setelah kematian tak lagi menakutkan
dan masa depan tak lagi menjadi muara kecemasan.
nafas yang telah lesap serta detak jantung yang telah menggema
adalah tanda betapa prasasti perjalanan hanya bisa ditulisi setelah peristiwa usai.

Aku, sayang, tak terlalu mencemaskan akhir lakon yang harus kumainkan di panggung ini.
Kisah yang harus kujalankan adalah perjuangan sepanjang naskah drama tragi-komedi telah kunikmati setiap reguk dan sisipnya.

Mungkin saja aku akan mati sebagai pecundang atau pahlawan, apalah bedanya.
Pada akhirnya layar akan diturunkan dan lampu pun akan padam.
Kegelapan tak lagi menakutkan, sejak kutahu aku takkan pernah sendiri.
Ada kerinduan yang akan selalu menjadi sahabat, kerinduan yang setia.

***
embun malam kemarau seperti diakrabkan padaku setetes demi setetes.
ia seperti mencoba melebur dingin kering musim ketiga dan langit lautan dini hari.
kutemukan diriku semakin tinggi melayang di langit dadamu, semakin dalam menyelam di palung hatimu.

***

Cinta seperti telah berdamai dengan puisi-puisiku setelah tercabik-cabik badai salju di musim yang lain.
Kutemukan diriku pulang ke negeri tempatku bermukim, tak lagi negeri dongeng para peri dan kurcaci.

Seorang kekasih, meski tak akrab dengan kata-kata dari bibirnya, telah menyalakan tungku tanah merah di dapur rumah gubug bambu di masa kecilku.
Kehangatan tempat kularikan diriku di musim-musim yang tak ramah, semisal musim badai, atau musim hama.

Pelukmu, meski masih tersamar keraguan, telah kubaca sebagai prosa yang liris.
Seliris sapaan lembut telapak tanganmu di pipiku yang usang oleh cuaca dan debu jalanan, di tengkukku yang meriang oleh nasib.
Seliris puisi-puisimu yang tak kautuliskan.

***
mentari semakin redup. bayang-bayang tetumbuhan semakin pudar saja.
perjalanan belum lagi melewati saat tengah hari, tetapi awan seperti ingin menggoda kesabaran kita.

***

Gerimis sesekali membasahi lahan kemarau tempat kita menyemai bibit cinta.
Memang bukan pilihan musim yang tepat, sementara pupuk dan cacing penggembur tanah seperti enggan bekerja.

Mungkin ladang yang kita siapkan ini tak cocok untuk tanaman kita,
Tetapi bukankah cinta adalah jenis varietas tanaman yang cocok tumbuh di segala iklim dan jenis tanah?
Kita lahir dari darah petani, pastilah kita benar-benar mengerti hal ini.

Sementara itu, seorang lelaki setiap penggal siang menjelma menjadi debu dalam demamnya yang akut.
Mungkin bukan demam biologis, mungkin hanya semacam psikosomatis, sakit perasaan.
Dari helai rambutnya yang mulai panjang, luruh sehelai sajak rayuan.

***
perempuan bunga
adakah ingin dekap lelaki debu
dalam kelopak jantungmu yang ragu
agar angin luput menyapu
lelaki debu dari tangkaimu

***

Dan saat senja terjatuh, ia menjelma jadi kabut.
Menguap lalu mengawang-layang di lelangit ladangnya yang masih saja keras hati.
Ladang keraguan. ladang hati. ladang hati yang ragu. ladang hati yang ragu oleh rindu.
Adakah rindu akan bertahan, ataukah hanya remang gairah sejenak hinggap, lalu lesap entah ke mana.

***
kekasih, sisihkan sepotong saja
rindumu untuk lelaki kabut

mengembun dalam cintanya yang akut
dalam cekam dingin inginnya
akan-mu

***

Tetapi darah petani ada dalam setiap riam pembuluh di tubuhku.
Sepenuh hati kucangkul-gemburkan ladang-ladangku, meski musim bisa sangat kejam, meluluhlantakkan semua jerih payah sepenuh jiwa dan tetes keringat gairah dan cita-cita.
Namun, tak ada arang yang patah dalam tunggu jantungku.

Setiap kisah yang patah akan kuhayati sepenuh hati dan kusyukuri seperti keramat amanat Dewi Sri.
Aku tak bertani sebagai hobi atau pelampias waktu jeda di antara musim tunggu.

Kubercocok-tanam dengan darah dan keringat.
Kucecap setiap tetes amis dan asin, sebagai sajak-sajak di relung puisi.
Serupa genggaman tangan yang lembut atau kecupan pipi yang tercuri.

***
debar hangat semakin guncang
dada meluap oleh kasih
menyimpan peluk di lubuk hati
hingga cinta membebaskannya
dari belenggu ragu

***

Kubaca tatap matamu bosan dengan semua yang tampak.
Hal-hal seperti telah menetap dalam posisinya masing-masing.

Posisiku tak terlalu aman serupa awan yang mengambang, rawan terberai oleh angin jahat.
Angin yang menghembus doa-doa pecinta sejati dan membelokkannya dari arah yang semestinya.
Bebatuan di sungai yang kita lalui berserak di kiri-kanan rakit kita.

Legam berkilau menunjukkan kekerasannya.
Perjalanan yang ini mungkin akan sangat melelahkan, banyak batu yang harus kita hindari.

Rakitku tak terlalu aman, bisa terusir oleh sungaimu setiap saat, karam dalam palung jeram atau dampar di hempas riak ke tebing tepian.

Langit adakah peduli dengan arah arus sungai?

Tampak di mataku hanyalah ejekan yang dipertontonkannya melalui gemawan yang tersebar tanpa bentuk jelas, bergerak tanpa arah jelas, seperti menghina arah yang kutempuh. sepotong rakit yang rapuh.
Tapi aku tak akan mengeluh.

Saturday, September 17, 2005

Sejumlah Kartu yang Tak Pernah Kukirim Padamu


WALAU pun minta maaf itu sebuah kesalahan
aku akan terus memohonkannya padamu atas
kesalahan-kesalahanku, sampai aku menemukan
cara lain untuk menebus rasa salah ini hingga
tak tercatat sehuruf pun di buku tagihan piutangmu.

HINGGA lunas kau dan aku. Tutup buku.

AKU punya dua buku. Buku pertama untuk mencatat
kebaikan-kebaikanmu. Dan buku kedua untuk mengingat
kesalahan-kesalahanku padamu. Hanya saja aku kadang
lupa, lalai membedakan sebuah peristiwa harus dicatat
di buku pertama atau buku yang kedua. Maafkan aku,

"MUNGKIN kau perlu buku ketiga," dulu rasanya kau pernah
menyarankan itu. Tapi, aku tak mengingat apalagi mencatat.

AKU punya selembar kartu khusus buatmu. Aku sudah
lama ingin menuliskan sesuatu yang khusus buatmu
di kartu itu. Aku sejak dulu terus berupaya menggubah
kalimat khusus yang hendak kutulis di kartu buatmu itu.

TAPI, aku selalu merasa tidak teramat khusus buatmu,
jadi kutuliskan saja kalimat ini, dan tentu kau tidak tahu,
betapa bahagianya aku karena hingga saat ini aku bisa
menyimpannya di tempat yang khusus di dalam diriku.


Nyanyian Putus Harapan

Kenangan tentangmu bangkit dari malam seputarku.
Sungai membaurkan keluh kesahnya dengan laut.

Tinggal sunyi sendiri, bagai para liliput di fajar hari.
Ini jam bagi keberangkatan, O aku yang tinggal sepi.

Bungkul kuntum bunga beku menghujani hatiku.
O lorong runtuh, puing berkeping kapal karam.

Padamu yang perang dan yang terbang tersatu.
Darimu sayap-sayap pada lagu burung terbangkit.

Engkau menelan habis segalanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya, waktu yang leluasa menyerang dan mengecup.
Waktu untuk mengeja apa yang berkobar: rumah cahaya.

Ketakutan penerbang pesawat, kegeraman pengemudi buta.
gerak acak Cinta yang mabuk. Padamu segala terbenam!

Di masa kanak kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Penjelajah pun tersesat. Padamu segala terbenam!

Maka kugambar lagi, kubangun dinding bayang,
antara bertindak dan angan, kaki kulangkahkan.

Oh daging, dagingku sendiri, perempuan terkasih yang hilang,
Aku memanggilmu di jam basah, kuteriakkan lagu bagimu.

Seperti guci, engkau berumah di kerapuhan tak hingga.
dan melupa yang tak hingga menghancurmu seperti guci.

Ada kesunyian pulau-pulau yang hitam. Dan di
sana, perempuan dengan cinta, tanganmu meraihku.

Ada rasa haus dan lapar, dan engkaulah buah-buahan.
Ada batu nisan dan reruntuhan, dan engkau keajaiban.

Ah perempuan, tak tahu aku, bagaimana kau mengisiku,
di bumi jiwamu, di dekap rengkuhnya kedua lenganmu.

Dahsyat dan ganasnya, angan inginku menuju engkau,
Betapa sulit dan kepayang, betapa keras dan keranjingan

Makam-makam kecupan, masih ada api di kuburmu,
masih ada buah terbakar, dipatuk-patuki burung.

Pada mulut yang tergigit, cabang-cabang terkecup,
pada geligi yang lapar, pada tubuh-tubuh terlilitkan.

Oh sepasang kegilaan: harapan dan kekuatan,
di mana kita bersatu menyatu lalu dikecewakan.

Dan kelembutan itu, sinar adalah air dan serbuk.
Dan kata-kata mencekam, mulai ada di bibir.

Inilah takdirku dan perjalananku, dan kerinduanku
dan ketika rindu menimpa, padamu segala terbenam!

O puing-puing reruntuhan, semua jatuh menimpamu,
derita yang tak kauucap, derita yang tak kau genangkan.

Dari gelombang ke gelombang masih kau seru berlagu
Berdiri tegak seperti pelaut di haluan kapal.

Engkau masih mekar dalam lagu, menunggangi arus.
O puing retuntuhan, membuka sumur yang empedu.

Si pengendara yang rabun, penyandang tanpa keberuntungan
si pencari jejak yang sesat. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya keberangkatan, saat yang keras membeku
Malam yang dipercepat pada setiap jadwal-jadwal.

Debar sabuk-sabuk samudera membebat pantai
Bintang yang beku memberat, burung hitam beranjak.

Tertinggal sunyi sendiri, seperti dermaga di fajar hari,
Hanya ada bayang gemetar meliuk di dua tanganku
.
O jauh dari segala, O terpencil dari segala.
Ini saatnya berangkat. O seorang telah disiakan!

Sajak Pablo Neruda

Pada Sebuah Senja di Langitku

Pada sebuah senja, di langitku, kau menjelma jadi awan
aku jatuh cinta tersebab bentuk dan warna-warnamu itu.
Engkau milikku, milikku, perempuan berbibir madu
dan dalam hidupmu, mimpi-mimpiku tak mati-mati.

Nyala pelita di jiwaku membasuh kedua kakimu,
Anggurku yang masam, terasa lebih manis di bibirmu,
Lagu pujian malamku, seluruhnya hanya bagimu,
O betapa ada satu mimpi: meyakini kau jadi milikku!

Kau milikku. Milikku. Kuteriakkan pada angin petang,
dan angin pun menghela suaraku nelangsa di pundaknya.
Pemburu kedalaman mataku, engkau si perampas
sebab masih saja naluri malammu mengira ia telaga.

Kau terperangkap dalam jaring musikku, Sayangku,
dan perangkap musikku itu meluas seluas angkasa.
Jiwaku lahir pada pantai perkabungan di matamu.
Di mata berkabungmu itu, negeri mimpi memulai diri.

Sajak Pablo Neruda

Nyaris Saja Melampaui Angkasa

Nyaris saja melampaui angkasa, separo bulan
menautkan jangkar di antara dua pegunungan.
Bertukaran, malam melayah, si penggali mata.
Tengok, ada bintang-bintang terbanting di kolam.

Ada persimpangan duka antara dua mataku, dan lekas berlalu.
Menempa logam biru, malam bagi pertempuran kesunyian.
Hatiku bergulung bertukar, seperti roda-roda gila.
Gadis yang datang dari jauh, terbawa dari jauh,
sesekali kelebatmu menyambar di lengkung langit.
Gemuruh, badai guruh, puting beliung kemarahan,
kau memapas di atas hatiku tanpa terhentikan.
Angin dari pemakaman terbawa lari, merongsokkan,
menghamburkan akarmu yang tadinya lelap damai.

Pohon besar di sisian lain, sisiannya, terbantun.
Tapi kau, gadis tanpa awan, pertanyaan kabut, malai jagung.
Di belakang gunung-gunung malam, lily putih lautan api,
Ah, tak ada yang bisa kusebut lagi! Kau adalah segalanya.

Rindu yang mengiris dadaku berkepingan, inilah saatnya
melintasi ke jalan lain, mengelakinya, menghindar senyuman.

Badai mengubur lonceng-lonceng, pusaran lumpur penyiksaan,
kenapa menyentuhnya sekarang, kenapa memurungkannya.

Oh, ikuti saja jalan yang membawamu jauh dari segalanya.
tanpa nestapa, kematian, musim dingin menanti di sana
dengan matanya terbuka karena embun yang ada.

Sajak Pablo Neruda

Friday, September 16, 2005

L.O.V.E

When love beckons to you follow him,
Though his ways are hard and steep.
And when his wings enfold you yield to him,
Though the sword hidden among his pinions may wound you.
And when he speaks to you believe in him,
Though his voice may shatter your dreams as the north wind lays waste the garden.
For even as love crowns you so shall he crucify you. Even as he is for your growth so is he for your pruning.
Even as he ascends to your height and caresses your tenderest branches that quiver in the sun,
So shall he descend to your roots and shake them in their clinging to the earth.
Like sheaves of corn he gathers you unto himself.
He threshes you to make you naked.
He sifts you to free you from your husks.
He grinds you to whiteness.
He kneads you until you are pliant;
And then he assigns you to his sacred fire, that you may become sacred bread for God's sacred feast.
All these things shall love do unto you that you may know the secrets of your heart, and in that knowledge become a fragment of Life's heart.
But if in your fear you would seek only love's peace and love's pleasure,
Then it is better for you that you cover your nakedness and pass out of love's threshing-floor,
Into the seasonless world where you shall laugh, but not all of your laughter, and weep, but not all of your tears.
Love gives naught but itself and takes naught but from itself.
Love possesses not nor would it be possessed;
For love is sufficient unto love.
When you love you should not say, "God is in my heart," but rather, I am in the heart of God."
And think not you can direct the course of love, for love, if it finds you worthy, directs your course.
Love has no other desire but to fulfil itself.
But if you love and must needs have desires, let these be your desires:
To melt and be like a running brook that sings its melody to the night.
To know the pain of too much tenderness.
To be wounded by your own understanding of love;
And to bleed willingly and joyfully.
To wake at dawn with a winged heart and give thanks for another day of loving;
To rest at the noon hour and meditate love's ecstasy;
To return home at eventide with gratitude;
And then to sleep with a prayer for the beloved in your heart and a song of praise upon your lips.

by. Kahlil Gibran