Sunday, March 11, 2007

Kekerasan terhadap wanita kah ini?

Harusnya tulisan ini telah terposting tanggal 8 Maret lalu, tepat saat
memperingati hari wanita se-dunia. Karena ini merupakan wujud rasa
keperihatinan terhadap sesosok wanita, keperihatinan? hmmnn memang agak sedikit
membingungkan untuk otakku yang telah terkontaminasi peradaban kontemporer ini.
Sebab kisah ini masih serba tidak jelas, apakah memang penindasan terhadap
wanita, ataukah karena keluguan seorang wanita yang tidak sadar telah terperdaya,
atau bahkan mungkin tidak merasa tertindas karena telah menganggapnya sebagai
anugrah dan kenikmatan?


Masih shock dengan email yang dikirim oleh rekan lama beberapa hari lalu,
hari ini ternyata email susulan nggak kalah membuatku lebih geleng-geleng
kepala sembari mengelus dada. Potongan cerita perbincangan yang hanya pantas
dibaca oleh pria ataupun wanita yang mengaku telah dewasa. Sosok yang konon
kabarnya sangat teguh dengan pendiriannya, sangat kuat dengan ibadahnya, sangat
santun dengan budayanya, sangat mempesona dengan kecantikannya, kini
bayangan-banyangan itu memudar dengan perlahan dari imagi tentangnya.



Betapa ia telah sangat menikmati perbuatan yang sebenanya belum pantas
dilakukan. Bagaimana dengan sangat jelas digambarkan bahwa semua dilakukan
dengan kesenangan, sama-sama mereguk kenikmatan dunia, mendesah dan memuncak
dengan bersama, tanpa ada satu paksaan.



Tapi kebingunganku bertambah, bahwasanya itu semua dilakukan tanpa ada satu
ikatan yang jelas. Ataukah perasaan sama-sama menuai peluh keringat setelah
“bertempur” beberapa kali, sudah cukup untuk meng”absah”kan perbuatan tersebut?
Berarti nggak usah neko-neko pake status “kekasih” , hubungan “pacaran” atau
bahkan “ijab kabul” segala?



Kan kalau pacaran itu harus tau segalanya tentang pasangan, kan kalau “ijab
kabul” itu harus tahu silsilah keluarga, apalagi yang namanya “Bibit, Bebet,
dan Bobot” buat sebagian besar orang masih sangat penting?



Eyalah... apa ini tho yang namanya jaman serba instan, nggak cuman Mie
saja, tidak hanya bubur thok, apalagi penyimpanan data-data, karena sudah
sangat dimudahkan dengan teknologi digitalisasi yang cepat. Ternyata masalah yang
katanya “mereguk kenikmatan bersama” juga bisa yah dibuat instan?



Jarak yang lumayan jauh bukan menjadi penghalang untuk melakukan yang
“instan-instan” itu. Tanpa harus memikirkan apa yang selanjutnya terjadi
ataukah memang belum terpikirkan yah? namun semoga bukan “nggak terpikirkan”!



Air mata yang mengalir bukanlah air mata penyesalan atas terenggutnya
“kesucian wanita” bukan pula tangisan penderitaan atas perbuatan seorang pria
yang dikencaninya. Namun air mata “kebahagiaan” atas “kenikmatan” sesaat yang
instan.



Tertindaskah dia sebagai “wanita”? Menindaskah dia sebagai “pria”?
Tertindaskah mereka dengan “instanisasi asmara”?



Kurasa aku tak berhak untuk menanyakan apalagi mengomentari, karena terlalu
dangkal pengetahuanku tentang itu semua. Mungkin hanya coretan iseng ini
sebagai wujud rasa keprihatinan terhadap apa yang telah terjadi dengan rekan
baru, yang dia juga adalah seorang “wanita”.



Monday, March 05, 2007

Satu Cerita dari Kota Tercinta...

Duh Gusti,
kawulo nyuwun pangapunten, ternyata ndhak salah kalo toh Panjenengan memberikan
azab bagi kami umatMu. Tapi, bukankah semua itu cobaan dengan harapan semoga
kami menjadi lebih arif menjadi manusia di muka bumi ini, ataukah saya, dia,
serta mereka yang memang kelewatan dan tak tau malu di hadapanMu Yang Memiliki
sertifikat atas seluruh dunia ini bahkan hidup dan mati kami?



Belum lagi sirna
dari ingatan hamba yang mudah lupa ini tentang dasyatnya gempa yang meluluhkan
Jogja, kini angin puting beliung menerpa…. Apakah ini peringatan ataukah memang
petunjuk yang tersembunyi dariMu.



Ah, kalau coba
direnungkan memang sepertinya sudah sewajarnya Kau kirim itu semua, karena
memang umatMu sebagian besar sudah khilaf dah lupa pada hakikat sebenarnya
tentang makna hidup ini.



Kotaku tercinta
yang dulu selalu terlihat lugu dan ayu, tak hanya porak poranda oleh bencana,
tapi juga telah luluh lantak oleh pergeseran budaya.



Paras asli Jogja
kini telah bersolek dengan gincu dan bedak kamuflase sosial.



Kata orang,
persepsi adalah kesan yang ditangkap oleh panca indera ditambah pengalaman yang
akan menghasilkan perilaku. Hmmnn pengalamanku mengatakan Jogja masih aseli seperti logo Dagadu, namun
panca inderaku kini menangkap hal yang sungguh fantastis berbeda, sungguh sangat…sangat berbeda. Lantunan lagu Jogjakarta milik Kla
Project kini menjadi getir terdengar. Jikalau kotaku mampu menitikkan air mata,
barangkali tak hanya tetesan yang
terlinang namun derai yang mengucur deras ke pangkuannya.



Duh Gusti... kini mau dikemanakan
paras jelita si gadis lugu itu. Peradaban yang telah tercoreng serta
tercabik-cabik oleh kenikmatan sesaat yang tak Kau ijinkan.



Aku tertegun sejenak karena hampir
tak percaya setelah kubuka email yang terkirim dari rekan lama.
Potongan
bukti bahwa kini ketabuan dan kesucian tak lagi dianggap berarti. Aku pikir ini
hanya terjadi di ibu kota,
di mana pusat terjadinya kemaksiatan, kehancuran moral, dan pergeseran budaya.
Tapi ini…. di Jogja??? leherku serasa tersekat tak dapat mengeluarkan
potongan-potongan kalimat.



Ataukah aku yang
terlalu bodoh ndhak bisa ngikutin perkembangan zaman, it has been changed man!
wake up! you’re too slow to catch it!
Apa aku yang memang sangat tolol dan
naif.



Hal-hal yang aku
anggap masih tabu ternyata sudah lazim dilakukan oleh yang lain. Aku pikir hal
itu masih “zinah” dilakukan, ataukah sudah bergeser menjadi “halal” untuk
dinikmati?



Membuktikan
sudah tak lagi menstruasi dengan telah melakukan “sholat” sehingga bisa leluasa
untuk melakukan hubungan badan pra Nikah?



Kalimat apa yang
pantas terucap dari bibirku yang kaku ini, “Alhamdulillah” kah karena toh
ternyata dia masih ingat kewajibannya untuk menyembahMu. Atau “Astagfirullah” kah karena melanggar batas
yang telah Kau tetapkan?



Apa yang sepantasnya hamba lakukan?
menolong mereka dari “kenikmatan”? ataukah termenung membayangkan balasan
dariMu yang pasti akan datang. Sekilas
aku teringat potongan lagu milik Java Jive



“Deru nafas memacu di dalam ruang
seiring hasrat manusia. Gelap melanda jiwa dan mereka terlena oh begitu cepat
dosa itu terbuat.”



Duh Gusti, hamba
yang terlalu lugu dengan perubahan zaman ataukah memang manusianya yang sudah
tak lagi perduli dengan azabMu? aku hanya dapat mengurut dada dan geleng
kepala. Modernisasi ataukah kebebasan yang kebablasan? Otorisasi atas hidup
manusia ataukah kebodohan atas nafsu birahi yang tak tertahankan?



Barangkali
kewarasanku sudah tak lagi dapat dipercaya, haruskah ikut tergilas dengan
keterkinian ataukah tetap bertahan pada akar rapuh tradisional kampungan yang
tersisa. Please Gusti Allah, kuatkanlah akar rapuh itu….






Wednesday, February 21, 2007

Rebo vs Robby part 1

Ahh… lama juga ternyata aku ndhak corat-coret, jangankan di Blog... di kertas aja rasanya tangan ini enggan buat digerakkan. Entah karena kesibukan yang membludak apa memang sok sibuk aja biar dibilang kayak orang penting.... ah wes mboh lah yang pasti nggak ada karya (wih...kayak pujangga aja), nggak ada coretan-coretan iseng...

Tapi memang sejak balik lagi ke Jakarta blas nggak pernah lagi bikin tulisan. Nggak tau kenapa kok hari ini jadi pengen nulis aja... apa karena baru “Ngeh” kalo blogspot udah dibeli google jadi blogger hehehe emang cah ndheso kuper banget, katanya seh IT Freak cuman telat terus infonya hahahaha....

Anyway... udah empat bulanan neh di kantor baru... rasanya lumayan asik, karena memang orangnya asik-asik juga seh yah, semoga aja terus begini suasananya.

Hari ini Jakarta lumayan terang setelah seminggu lalu hujan terus plus banjir, hari ini cerah secerah hatiku (halah...halah... sok puitis) yang lagi berbinar-binar buka-buka FS dan MPnya someone (masih dirahasiakan...). Jadi pengen balik kampung cepet-cepet deh, yah sementara ndengerin lagu-lagunya Kla aja deh hehehe...

“Emang dasar pengecut sampeyan, minder terus seh bawaannya, coba dong langsung ngobrol aja, kalo nggak ditanggepin yah berarti dia lagi sibuk kerja, gitu aja kok repot!” eealah... kok suara itu muncul lagi seh, nggak tau apa kalo lagi mengagumi dari jauh keindahan mahluk ciptaan Allah? Hhmmn jadi inget film Rebo dan Robby yang dimainin sama Om Didi Petet hehehe, berantem sama hati nurani yang kadang lebih berat daripada beranten sama orang lain.

Abis kadang suka takut juga kalo mau telp. Soalnya ngomongnya irit banget, jangan-jangan emang dia males ngomong ma aku aja kali yah? Tapi coba selalu buat berpositif thinking lah... mungkin masih sibuk banget kalo nggak yah memang lagi nggak pas aja waktunya. Sampe-sampe ada yang bilang “masak loe bisa kehabisan kata-kata, bukannya loe biasa bermain dengan kata-kata?”

Tapi emang bener seh kok sekarang bisa speechless gini yah, kayaknya nggak biasanya lho begini, jangankan di telp, ngobrol langsung sama orang lain aja bisa lancuar buanget kok. Padahal kok yah bodoh banget yah aku ini, wong belom pernah ketemu langsung kok udah mbingungi ngene? Ah wes lah ra karuan...

Opo yo mau jadi secret admire selamanya? Mboh ra dhong... pokoknya selama ini nyoba buat menikmati apa yang ada aja, kan jadi lebih bersyukur sebagai mahluk Allah... (hehehe mencoba bersembunyi di balik ketidakberanian)...

Wah dia lagi Online neh, sapa ah... siapa tau ada keajaiban pagi ini wish me luck yah Robby, sekarang Rebo yang mau beraksi...Bismillah...